Rambu Rambu Sebelum Ternak Serama

- Rabu, 11 Agustus 2021 | 12:53 WIB

Kicaukicau-Pandemi covid 19 yang berdampak pada semua lini termasuk hobi, di antaranya kontes serama. Seharusnya tahun kompetisi berakhir dan pemenangnya siapa, jelas dinanti.


Kalau ceritanya begini, Setro, salah satu serama mania Blitar berujar, kontes tidak ada, akhirnya pejantan yang biasa begaya di depan juri, sementara beralih jadi indukan.


Namun, bak peribahasa, sudah jatuh ketimpa tangga. Harga yang dulunya bisa tembus ratusan juta untuk serama kontes, sekarang hal tersebut seperti mission impossible.

Baca Juga: Pelihara Ayam Dalam Rumah? Usir Bau Kotoran Dengan Ini
Ternak Juga Tak Mudah


Pernyataan tersebut keluar bukan dari orang awam. Namun pendapat Cak Sodiq Saigon Serama Farm, JL Dharmawangsa Tawangalun Jember.


Hal tersebut berdasar pengalaman serta hasil sharing dengan rekan sejawat. "Memang seperti itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sependek sepengetahuan saya, ada faktor gen dan gen resesif lebih dominan, turut berperan dalam proses breeding kita nantinya," bukanya.
Gen Resesif

Jadi, gini, ketika kita gembira karena bisa dapat pejantan dan betina unggul, karena track recordnya sebagai ratu dan raja kontes karena sering juara. Sebaiknya hentikan dulu euforia tersebut dan bersiap untuk menerima kenyataan yang ada.


Karena, kata Cak Sodiq, belum tentu lahir sosok anakan yang diharapkan. "Ya, kurang lebihnya seperti itu. Gen resesif atau gen lemah kerap membayangi perjalanan seorang breeder," lanjutnya.
Berharap, ketika yang unggul kawin dengan yang unggul hasilnya bagus, ternyata yang kita dapat biasa saja dan itu, sudah lumrah bagi penekun dunia serama.


Tapak Tangan

Halaman:

Editor: Sudjatmiko

Tags

Terkini

X